In grammar, a conjunction (abbreviated conj or cnj) is a part of speech that connects two words, phrases or clauses together. This definition may overlap with that of other parts of speech, so what constitutes a "conjunction" should be defined for each language. In general, a conjunction is an invariable grammatical particle, and it may or may not stand between the items it conjoins.
The definition can also be extended to idiomatic phrases that behave as a unit with the same function as a single-word conjunction (as well as, provided that, etc.).
Coordinating conjunctions
Coordinating conjunctions, also called coordinators, are conjunctions that join two or more items of equal syntactic importance. The mnemonic acronym FANBOYS should not be used to remember the coordinators It is often stated that the seven words for, and, nor, but, or, yet, and so are the only coordinating conjunctions; however, for, so, and yet are not co-ordinating conjunctions, and various others are used, including whilst, now, and (at least in British English) and nor and but nor.
Here is a quick precis of some of the co-ordinating conjunctions in English:
and: used to connect words, phrases, or clauses
but: indicates a contrast or exception
or: presents opinions, alternates, or substitutes for ideas of equal importance
nor: presents an alternate negative idea
Correlative conjunctions
Correlative conjunctions are pairs of conjunctions that work together to coordinate two items. English examples include both…and, [n]either…[n]or, and not [only]…but [also], whether... or.
Examples:
• Either do your work or prepare for a trip to the office.
• Not only is he handsome but he is also brilliant.
• Neither the basketball team nor the football team is doing well.
• Both the cross country team and the swimming team are doing well.
• Whether you stay or go is your decision.
• Either you get F's or you do not go to school.
Subordinating conjunctions
Subordinating conjunctions, also called subordinators, are conjunctions that introduce a dependent clause. The most common subordinating conjunctions in the English language include the following: after, although, as much as, as long as, as soon as, because, before, if, in order that, lest, since, so that, than, that, though, unless, until, when, whenever, where, wherever, whether, and while. Complementizers can be considered to be special subordinating conjunctions that introduce complement clauses (e.g., "I wonder whether he'll be late. I hope that he'll be on time"). Some subordinating conjunctions (although, before, until, while), when used to introduce a phrase instead of a full clause, become prepositions with identical meanings.
In many verb-final languages, subordinate clauses must precede the main clause on which they depend. the conjunction comes from the Latin root to intervene. The equivalents to the subordinating conjunctions of non-verb-final languages such as English are either
clause-final conjunctions (e.g. in Japanese), or
suffixes attached to the verb and not separate words
Such languages in fact often lack conjunctions as a part of speech because:
the form of the verb used is formally nominalised and cannot occur in an independent clause
the clause-final conjunction or suffix attached to the verb is actually formally a marker of case and is also used on nouns to indicate certain functions. In this sense, the subordinate clauses of these languages have much in common with postpositional phrases.
In other West-Germanic languages like German or Dutch, the word order after a subordinating conjunction is different from the one in an independent clause, e.g. in Dutch want (for) is coordinating, but omdat (because) is subordinating. Compare:
Hij gaat naar huis, want hij is ziek. -- He goes home, for he is ill.
Hij gaat naar huis, omdat hij ziek is. -- He goes home because he is ill.
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (PERBARA) atau lebih populer dengan sebutan Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, serta memajukan perdamaian di tingkat regionalnya. Negara-negara anggota ASEAN mengadakan rapat umum pada setiap bulan November.
Prinsip Utama ASEAN
Prinsip-prinsip utama ASEAN adalah sebagai berikut:
Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara
Hak untuk setiap negara untuk memimpin kehadiran nasional bebas daripada campur tangan, subversif atau koersi pihak luar
Tidak mencampuri urusan dalam negeri sesama negara anggota
Penyelesaian perbedaan atau perdebatan dengan damai
Menolak penggunaan kekuatan yang mematikan
Kerjasama efektif antara anggota
Anggota ASEAN
Kini ASEAN beranggotakan semua negara di Asia tenggara (kecuali Timor Leste dan Papua Nugini). Berikut ini adalah negara-negara anggota ASEAN:
Filipina (negara pendiri)
Indonesia (negara pendiri)
Malaysia (negara pendiri)
Singapura (negara pendiri)
Thailand (negara pendiri)
Brunei Darussalam (7 Januari 1984)
Vietnam (28 Juli 1995)
Laos (23 Juli 1997)
Myanmar (23 Juli 1997)
Kamboja (16 Desember 1998)
Sejarah
Logo ASEAN
ASEAN didirikan oleh lima negara pemrakarsa, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok melalui Deklarasi Bangkok. Menteri luar negeri penanda tangan Deklarasi Bangkok kala itu ialah Adam Malik (Indonesia), Narciso R. Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S. Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand).
Isi Deklarasi Bangkok adalah sebagai berikut.
Mempercepat pertumubuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara
Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional
Meningkatkan kerjasama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik,ilmu pengetahuan, dan administrasi
Memelihara kerjasama yang erat di tengah - tengah organisasi regional dan internasional yang ada
Meningkatkan kerjasama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara
Brunei Darussalam menjadi anggota pertama ASEAN di luar lima negara pemrakarsa. Brunei Darussalam bergabung menjadi anggota ASEAN pada tanggal 7 Januari 1984 (tepat seminggu setelah memperingati hari kemerdekannya). Sebelas tahun kemudian, ASEAN kembali menerima anggota baru, yaitu Vietnam yang menjadi anggota yang ketujuh pada tanggal 28 Juli 1995. Dua tahun kemudian, Laos dan Myanmar menyusul masuk menjadi anggota ASEAN, yaitu pada tanggal 23 Juli 1997. Walaupun Kamboja berencana untuk bergabung menjadi anggota ASEAN bersama dengan Myanmar dan Laos, rencana tersebut terpaksa ditunda karena adanya masalah politik dalam negeri Kamboja. Meskipun begitu, dua tahun kemudian Kamboja akhirnya bergabung menjadi anggota ASEAN yaitu pada tanggal 16 Desember 1998.
Timor Leste
Negara baru Timor Leste, yang dulunya merupakan sebuah provinsi Indonesia, kini mendapatkan status pemerhati (observer) dalam ASEAN, setelah menuai protes dari berbagai negara ASEAN yang tidak mendukung masuknya Timor-Leste ke ASEAN, atas dasar rasa hormat kepada Indonesia. Awalnya, Myanmar menentang pemberian status observer kepada Timor-Leste karena dukungan Timor-Leste terhadap pejuang pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi.
Sejak restorasi kemerdekaan Timor-Leste pada Mei 2002, ASEAN telah banyak membantu Timor-Leste. Timor-Leste telah diundang untuk hadir dalam beberapa pertemuan ASEAN. Meskipun begitu, Timor-Leste masih tetap berstatus observer. Mantan Menlu Timor Leste yang sekarang menjadi Presiden, Ramos Horta, pernah menyatakan tidak berminat menjadi anggota ASEAN, karena Timor-Leste dinilai bukan negara Asia (Tenggara), melainkan negara Pasifik atau Australia. Berbeda dengan rekannya Xanana Gusmao yang menyatakan bahwa akan lebih menguntungkan bagi Timor Leste apabila berafiliasi dengan ASEAN dibandingkan dengan apabila bergabung dengan Pacific Islands Forum.
Perkembangan terakhir mengindikasikan bahwa Timor-Leste sangat berminat untuk menjadi anggota ASEAN. Bahkan Pemerintah Timor-Leste melalui Kementerian Luar Negerinya telah menargetkan bahwa Timor-Leste akan menjadi anggota ASEAN pada tahun 2012, hal ini sangat di dukung oleh pemerintah Indonesia juga negara-negara anggota ASEAN lainnya seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat bahwa Pemerintah Timor-Leste juga telah membuka Sekretariat Nasional ASEAN di Dili pada awal bulan Februari 2009, dimana sekretariat ini akan berfungsi untuk mempersiapkan tahapan-tahapan menjadi keanggotaan ASEAN.
Perbandingan dengan blok/negara lainnya
Badan
Wilayah km²
Populasi
PDB (PPP) juta $AS
PDB (PPP)
per kapita $AS
Negara
anggota
UE
3.977.487
456.285.839
11.064.752
24.249
25
ASEAN
4.400.000
553.900.000
2.172.000
4.044
10
CSN
17.715.335
366.669.975
2.635.349
7.187
12
NAFTA
21.588.638
430.495.039
12.889.900
29.942
3
AU
29.797.500
850.000.000
1.515.000
1.896
53
Negara
besar
Pembagian
politik
India
3.287.,590
1.102.600.000
3.433.000
3.100
35
China
9.596.960
1.306.847.624
7.249.000
5.200
33
Amerika Serikat1
9.631.418
296.900.571
11.190.000
39.100
50
Kanada
9.984.670
32.507.874
958.700
29.800
13
Rusia
17.075.200
143.782.338
1.282.000
8.900
89
Pada tahun 2003. Warna sian menandai nilai terbesar, hijau untuk terkecil, di antara blok yang dibandingkan. Sumber: CIA World Factbook 2004, IMF WEO Database 1Anggota NAFTA
Status ekonomi
Tabel PDB berdasarkan PPP , dikeluarkan oleh IMF pada September 2004.
Negara
PDB (PPP) juta
dolar inter.
PDB (PPP) per kapita dolar inter.
Indonesia
820.543
3.661 (6)
Thailand
514.236
7.851 (4)
Filipina
391.849
4.652 (5)
Malaysia
271.167
10.449 (3)
Vietnam
222.345
2.685 (7)
Singapura
111.507
25.384 (1)
Myanmar
81.283
1.466 (10)
Kamboja
25.648
1.775 (9)
Laos
11.832
1.972 (8)
Brunei
5.658
15.171 (2)
Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN
Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (Bahasa Inggris: ASEAN Free Trade Area, AFTA) adalah sebuah persetujuan oleh ASEAN mengenai sektor produksi lokal di seluruh negara ASEAN.
Ketika persetujuan AFTA ditandatangani resmi, ASEAN memiliki enam anggota, iaitu, Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Vietnam bergabung pada 1995, Laos dan Myanmar pada 1997 dan Kamboja pada 1999. AFTA sekarang terdiri dari sepuluh negara ASEAN. Keempat pendatang baru tersebut dibutuhkan untuk menandatangani persetujuan AFTA untuk bergabung ke dalam ASEAN, namun diberi kelonggaran waktu untuk memenuhi kewajiban penurunan tarif AFTA.
Tujuan
Meningkatkan daya saing ASEAN sebagai basis produksi dalam pasar dunia melalui penghapusan bea dan halangan non-bea dalam ASEAN
Menarik investasi asing langsung ke ASEAN
Mekanisme utama untuk mencapai tujuan di atas adalah skema "Common Effective Preferential Tariff" (CEPT).
Anggota ASEAN memiliki pilihan untuk mengadakan pengecualian produk dalam CEPT dalam tiga kasus:
Pengecualian sementara
Produk pertanian sensitif
Pengecualian umum (Sekretariat ASEAN, 2004)
ASEAN Plus 3
ASEAN Plus Three (APT) atau Kerja sama ASEAN Plus Three (APT) adalah kerjasama antara lain paling menonjol di bidang keuangan terdiri dari 10 anggota ASEAN plus China, Jepang dan Republik Korea. sejak tahun 1997 pada saat kawasan Asia sedang dilanda krisis ekonomi. Dalam periode 10 (sepuluh) tahun pertama 1997-2007 mekanisme dan pelaksanaan kerja sama APT didasarkan kepada Joint Statement on East Asia Cooperation. KTT APT pertama berlangsung pada Desember 1997 di Kuala Lumpur.
Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN adalah pertemuan puncak antara pemimpin-pemimpin negara anggota ASEAN yang diselenggarakan setiap tahunnya sejak KTT ke-7 tahun 2001.
Sejak dibentuknya ASEAN telah berlangsung 14 kali KTT resmi, 4 KTT tidak resmi, dan 1 KTT Luar Biasa.
Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN
Tanggal
Negara
Tuan rumah
1
23‒24 Februari 1976
Indonesia
Bali
2
4‒5 Agustus 1977
Malaysia
Kuala Lumpur
3
14‒15 Desember 1987
Filipina
Manila
4
27‒29 Januari 1992
Singapura
Singapur
5
14‒15 Desember 1995
Thailand
Bangkok
6
15‒16 Desember 1998
Vietnam
Hanoi
7
5‒6 November 2001
Brunei
Bandar Seri Begawan
8
4‒5 November 2002
Kamboja
Phnom Penh
9
7‒8 Oktober 2003
Indonesia
Bali
10
29‒30 November 2004
Lao
Vientiane
11
12‒14 Desember 2005
Malaysia
Kuala Lumpur
12
11‒14 Januari 20071,2
Filipina
Cebu
13
18‒22 November 2007
Singapura
Singapura
14
27 Februari-1 Maret 20093
Thailand
Cha Am, Hua Hin
15
23 Oktober 2009
Thailand
Cha Am, Hua Hin
16
8-9 April 2010
Vietnam
Hanoi
1Ditunda dari tanggal sebelumnya 10‒14 Desember 2006 akibat Badai Seniang
2Menjadi tuan rumah setelah Myanmar mundur karena ditekan AS dan UE
3Ditunda dari tanggal sebelumnya 12‒17 Desember 2008 akibat krisis politik Thailand 2008. Pertemuan pada Maret kemudian dibatalkan akibat aksi unjuk rasa di lokasi pertemuan.
Konferensi Tingkat Tinggi Tak Resmi ASEAN
Tanggal
Negara
Tuan rumah
1
30 November 1996
Indonesia
Jakarta
2
14‒16 Desember 1997
Malaysia
Kuala Lumpur
3
27‒28 November 1999
Filipina
Manila
4
22‒25 November 2000
Singapura
Singapura
Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa ASEAN
Tanggal
Negara
Tuan rumah
1
6 Januari 2005
Indonesia
Jakarta
Hasil dari KTT Resmi ASEAN
KTT ke-1
Deklarasi Kerukunan ASEAN; Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC); serta Persetujuan Pembentukan Sekretariat ASEAN.
KTT ke-2
Pencetusan Bali Concord 1.
KTT ke-3
Mengesahkan kembali prinsip-prinsip dasar ASEAN.
Solidaritas kerjasama ASEAN dalam segala bidang.
Melibatkan masyarakat di negara-negara anggota ASEAN dengan memperbesar peranan swasta dalam kerjasama ASEAN.
Usaha bersama dalam menjaga keamanan stabilitas dan pertumbuhan kawasan ASEAN.
KTT ke-4
ASEAN dibentuk Dewan ASEAN Free Trade Area (AFTA) untuk mengawasi, melaksanakan koordinasi.
Memberikan penilaian terhadap pelaksanaan Skema Tarif Preferensi Efektif Bersama (Common Effective Preferential Tariff/CEPT) menuju Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN.
KTT ke-5
Membicarakan upaya memasukan Kamboja, Laos, Vietnam menjadi anggota serta memperkuat identitas ASEAN.
KTT ke-6
Pemimpin ASEAN menetapkan Statement of Bold Measures yang juga berisikan komitmen mereka terhadap AFTA dan kesepakatan untuk mempercepat pemberlakuan AFTA dari tahun 2003 menjadi tahun 2002 bagi enam negara penandatangan skema CEPT, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.
KTT ke-7
Mengeluarkan deklarasi HIV/AIDS.
Mengeluarkan deklarasi Terorisme, karena menyangkut serangan terorisme pada gedung WTC di Amerika.
Pencetusan Bali Concord II yang akan dideklarasikan itu berisi tiga konsep komunitas ASEAN yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN (ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASSC).
KTT ke-10
Program Aksi Vientiane (Vientiane Action Program) yang diluluskan dalam konferensi tersebut menekankan perlunya mempersempit kesenjangan perkembangan antara 10 negara anggota ASEAN, memperluas hubungan kerja sama dengan para mitra untuk membangun sebuah masyarakat ASEAN yang terbuka terhadap dunia luar dan penuh vitalitas pada tahun 2020.
KTT ke-11
Perjanjian perdagangan jasa demi kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Korea Selatan, memorandum of understanding (MoU) pendirian ASEAN-Korea Center, dan dokumen hasil KTT Asia Timur yang diberi label Deklarasi Singapura atas Perubahan Iklim, Energi, dan Lingkungan Hidup.
KTT ke-12
Membahas masalah-masalah mengenai keamanan kawasan, perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), keamanan energi Asia Tenggara, pencegahan dan pengendalian penyakit AIDS serta masalah nuklir Semenanjung Korea.
KTT ke-13
Penandatanganan beberapa kesepakatan, antara lain seperti perjanjian perdagangan dalam kerangka kerjasama ekonomi dan penandatangan kerjasama ASEAN dengan KoreaCenter, menyepakati ASEANCenter.
KTT ke-14
Penandatanganan persetujuan pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-Australia-Selandia Baru
Hasil dari KTT Tidak Resmi ASEAN
KTT Tidak Resmi ke-1
Kesepakatan untuk menerima Kamboja, Laos, dan Myanmar sebagai anggota penuh ASEAN secara bersamaan.
KTT Tidak Resmi ke-2
Sepakat untuk mencanangkan Visi ASEAN 2020 yang mencakup seluruh aspek yang ingin dicapai bangsa-bangsa Asia Tengara dalam memasuki abad 21, baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial budaya.
KTT Tidak Resmi ke-3
Kesepakatan untuk mengembangkan kerja sama di bidang pembangunan ekonomi, sosial, politik dan keamanan serta melanjutkan reformasi struktural guna meningkatkan kerja sama untuk pertumbuhan ekonomi di kawasan.
KTT Tidak Resmi ke-4
Sepakat untuk pembangunan proyek jalur kereta api yang menghubungkan Singapura hingga Cina bahkan Eropa guna meningkatkan arus wisatawan.
KTT Luar Biasa (Jakarta 6 Januari 2005)
Pembahasan bagaimana penanggulangan dan solusi menghadapi Gempa atau Tsunami.